ALMUSAFIRAH dalam MUSAFIR KASIH-NYA


posted by Khairunnisa on ,

No comments


Oleh : DSKhairunnisa’Ismail

(AKADEMIPENGAJIANISLAM, UNIVERSITIMALAYA)




Fokus utama yang ingin dikongsikan di sini bukanlah tentang jalan cerita novel Syabab Musafir Kasih nukilan Fatimah Syarha ini. Tetapi, apa yang ingin dikongsikan di sini ialah musafir diri di bumi Serambi Makkah ( Kelantan ) sehingga lah buka sem baru pada 28 Dis o8 ini.



MUSAFIR



Aku terimbas kembali zaman sekolah menengah ku di SMU Islamiah Tawau Sabah, aku suka menggunakan ‘Almusafirah’ sebagai nama pena. Sebab aku rasa, disamping kita ini hamba, khalifah, mad’u, dai’e, murabbi.. kita juga adalah seorang MUSAFIR. Musafir kita di bumi Allah menuju destinasi yang pasti. Hamba yang bermusafir untuk mencari CINTA dan REDHA Nya.



Mari kita renungkan ayat-ayat Cinta-NYA yang bermaksud ;



(3:137) Sesungguhnya telah berlalu sebelum kamu sunnah-sunnah Allah [1] ; Karena itu berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).



(6:11) Katakanlah: "Berjalanlah di muka bumi, Kemudian perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan itu."



(16:36) Dan sungguhnya kami telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): "Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thaghut [2] itu", Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya [2]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul).



(27:69) Katakanlah: "Berjalanlah kamu (di muka) bumi, lalu perhatikanlah bagaimana akibat orang-orang yang berdosa.”



Jadi...berjalanlah. Bukan untuk melancong, apatah lagi untuk melencong ke tempat-tempat yang tak sepatutnya, tapi berjalan untuk muhasabah hati, untuk mengoreksi diri. Buka minda kita dengan pelbagai perkara dan peristiwa yang berlaku di sekitar kita.



Berjalanlah untuk merasa adakah “langit” di luar sana secerah langit di kediaman kita. Mungkinkah “bunga” di luar sana lebih harum dan segar berbanding kuntuman yang kembang di barisan taman kita. Ini kerana, hidup kita adalah jalan takdir kita. Mana mungkin sama dengan jalan hidup insan yang lain.


(54:49) Sesungguhnya, Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.



Berbicara soal TAKDIR. Tidak ada satu pun di alam ini yang terjadi secara kebetulan, sebagaimana tercatat di dalam Al-Qur`an,

(13: 2) “... Allah mengatur urusan (makhluk-Nya)….”



Dalam ayat lain dikatakan,

(6: 59) “… dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya (pula).. ”



Dialah Allah Yang menciptakan dan mengatur semua peristiwa, bagaimana mereka berawal dan berakhir. Dia pulalah yang menentukan setiap gerakan bintang-bintang di jagat raya, kondisi setiap yang hidup di bumi, cara hidup seseorang, apa yang akan dikatakannya, apa yang akan dihadapinya, sebagaimana yang di jelaskan di dalam ayat Quran yang bermaksud :



(57: 22) “Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya, yang demikian itu adalah mudah bagi Allah.”



Membuat keputusan untuk tidak balik ke rumah amat sukar dilakukan. Namun, perasaan ku kuat di dalam hati ingin melihat perjalanan keindahan aturan-Nya sebagai hidup bermusafir. Mencuba menyelami hidup sebagai HAMBA, yang sukar di telusi dek kerana nafsu duniawi. Mencari erti sebenar hidup ini suatu anugerah, mensucikan hati agar pergantungan penuh hanya pada Nya, mendengar ‘suara’-Nya menyeru ku, berbicara dengan ku, dan mengajar aku erti sabar dan tawakkal..



(33:3) Dan bertawakkallah kepada Allah. dan cukuplah Allah sebagai Pemelihara.



Berjalanlah...mari menjadi hamba yang tidak akan kenal lagi erti kecewa. Di dalam hatinya penuh keyakinan, seolah-olah bisikan Nabi s.a.w terhadap sahabatnya;



(9:40) “Janganlah kamu berdukacita, sesungguhnya Allah beserta kita.”



Dan JANJI ALLAH itu PASTI, Dia tak akan menyia-nyiakan hambaNya...



( 65:2-3 ) “... Barangsiapa yang bertaqwa kepada Allah niscaya Dia akan mengadakan baginya jalan keluar. Dan memberinya rezeki dari arah yang tiada disangka-sangkanya. Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya. Sesungguhnya, Allah melaksanakan urusan (yang dikehendaki) Nya. Sesungguhnya, Allah telah mengadakan ketentuan bagi tiap-tiap sesuatu.”





Sahabat, perlu di ingat, HAMBA itu jiwanya mesti kental, rohaninya perlu hebat, barulah mampu menjadi HAMBA-NYA ampuh, yang kukuh. Andai gelombang nafsu datang, tidak rebah dengan mudah. Andai hembusan dunia datang menyapa, tidak terlena walau sekelip mata. Andai perlu menyembur api ke langit [4] untuk mencerahkan kejahilan, lakukanlah. Kuasai api amarah di dapur hati dan sujud sepenuh hati sebelum cahaya di sepertiga malam.



Ingat bagaimana kisah Bilal bin Rabah r.a yang dahulunya seorang hamba sahaya. Tetap mengatakan AHAD...AHAD...AHAD walaupun batu membeban di jasad, namun jiwanya tidak lumpuh, rohaninya semakin bertambah. Itulah salah satu contoh HAMBA ALLAH yang hebat. Jangan persoalkan pada ukuran zaman. Tapi cungkil rahsia kenapa kita tidak boleh jadi sehebat mereka pada zaman itu. Walhal, zaman kita ini lebih selamat daripada zaman Bilal bin Rabah r.a.



Jadi sahabatku, jangan lupa untuk berjalan..melihat kekuasaanNya, berjalan sebagai HAMBA yang sedar akan dirnya..



(29:20) Katakanlah: "Berjalanlah di (muka) bumi, Maka perhatikanlah bagaimana Allah menciptakan (manusia) dari permulaannya, Kemudian Allah menjadikannya sekali lagi [3]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu”



(67:15) Dialah yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, Maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. dan Hanya kepada-Nya-lah kamu (kembali setelah) dibangkitkan.



Di kesempatan ini, hamba memohon rantaian doa kalian. Moga musafirku musafir yang di redhai..musafirku mencari “permata” untuk di bawa balik untuk santapan masyarakat Sabah khususnya. Satu nasihatku buat diri ku dan sahabat yang di sayangi Allah:




USAH DIMINTA PERKECILKAN “UJIAN”,

TAPI MINTALAH DIPERBESARKAN “IMAN





[1] yang dimaksud dengan sunnah Allah di sini ialah hukuman-hukuman Allah yang berupa malapetaka, bencana yang ditimpakan kepada orang-orang yang mendustakan rasul.

[2] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

[3] Maksudnya: Allah membangkitkan manusia sesudah mati kelak di akhirat

[4] perumpamaan daripada Hilal Asyraf weblog www.langitillahi.blogspot.com







Oleh : DSKhairunnisa’Ismail

Lokasi sekarang : Pasir Mas, Kelantan

21 November 08

http://qalamhazin.blogspot.com

Leave a Reply

About

Blog Widget by LinkWithin